Layaknya roda yang terus berputar, tiada hentinya manusia
melangkahkan kehidupannya di atas bumi. Mencari sesuap nasi, atau mungkin hanya
mencari sensasi. Ada yang duduk santai, atau hanya bersenda gurau. Di jembatan
layang, pengemispun dengan setia mengangkat tangan. Berharap para dermawan
melayangkan selembar uang atau hanya sebatas receh. Ironis memang, bila
dibandingkan dengan mereka yang tertawa terbahak dibalik gedung-gedung tinggi
pencakar langit. Atau mereka yang hanya tahu bagaimana mengisi perut sendiri.
Di balik itu semua, seorang gadis lemah gemulai mengayuh
sepeda. Menelusuri kota Bandung yang sudah padat terhimpit oleh sesaknya
emperan toko. Bahkan lautan manusia tengah siap membanjiri wilayah itu, seolah
gelombang dahsyat yang akan memporak-porandakan alam dengan hasrat dan
keinginannya.
Iapun berhenti di salah satu emperan toko. Menatapi seorang
tua renta yang tengah mengayuh mesin jahit kesayangannya. Dengan cekatan ia
menari bersama kain yang sedang digarapnya. Tanpa peduli buasnya hidup yang ada
di depan mata dan siap menerkamnya kapan saja. Gadis itupun meneteskan air
mata. Melihat sosok yang sedemikian hingganya. Dengan langkah teratur ia
mendekati tua renta itu. Sembari menghapus sisa-sisa air mata yang sempat
turun. Nada lembut dan indah berbalut sayang pun keluar dari mulutnya. “Bah,
abah, ini Ani bawakan nasi dan sayur kangkung kesukaan Abah.” Bapak yang sudah
tua renta itupun menghentikan kegiatannya seraya menatap gadis gemulai yang
datang membawa bekal makan siangnya. “Iya nak, kemarilah, duduk di samping Abah
dan makanlah bersama.” Sahut tua renta itu dengan senyum tulus penuh kasih dan
sayang. Seketika gadis itu merangkul sosok tua renta yang begitu dicintainya.
Tanpa sadar air matanya kembali menetes seperti air terjun yang tiada
seorangpun mampu membendungnya. Lembut tangan sang Abahpun menepuk punggungnya.
“Sudah, sudah nak, ayo kita makan. Abah sudah lapar.” Nada Abah pun melarutkan
kesedihan Ani yang mendalam. Ani pun bergegas membuka rantang berisi nasi dan
sayur kangkung untuk disantap bersama. Sungguh, hidangan yang sederhana. Namun
makanan itu adalah yang paling nikmat dibanding makanan yang disediakan
restoran mewah sekalipun. Terutama bila dinikmati bersama orang terkasih.
Sebuah pemandangan yang menakjubkan.
Ani adalah sesosok perempuan yang begitu sabar. Hidup
berdua bersama sang Abah setelah ditinggal wafat oleh ibunda tercinta sepuluh
tahun silam. Abahnya hanya seorang penjahit pinggir jalan yang tak jelas
penghasilannya. Kadang rejeki datang, kadang surut seperti laut di bibir
pantai. Meski hidup penuh kesederhanaan, Ani tak kenal menyerah. Prestasi demi
prestasi ia raih demi mencari beasiswa untuk menyambung hidup. Mungkin inilah
kasih Allah untuk makhluknya. Berkat ikhtiarnya ditemani do’a sang Abah, Ani
bisa kuliah di kedokteran dengan biaya kuliah gratis. Iapun tinggal di asrama
mahasiswa dengan biaya gratis pula. Memang, rezeki tak akan lari ke mana. Bila
ia mau berusaha, dan bertawakal pada-Nya akan hasilnya, “Kun, Fayakun”,
“Jadilah, maka jadilah sesuatu itu.”
“Abah, kuliah Ani sudah hampir selesai.” Kata Ani. Abahpun
tersenyum dengan mata berbinar. “Alhamdulillah, semoga Allah SWT senantiasa
melindungimu nak.” Sahut Abah dengan mesra. Ani membalas dengan senyum tenang
penuh bahagia. Penuh harap dan do’a, ia ingin membahagiakan Abahnya dengan
hasil jerih payahnya.
Seusai membereskan sisa makan dan rantangnya, Ani pamit
kepada Abahnya. Dalam setiap kayuh sepedanya, ia terus berTahmid dalam hatinya.
Berucap syukur sebanyak-banyaknya atas limpahan nikmat yang didapatnya.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”. Ditelusurinya satu per satu
bentangan jalan di sudut kota Bandung. Menikmati pemandangan kota yang sudah
penuh sesak oleh kendaraan yang lalu lalang. Hingga sore itu, langit tetap
ceria memayungi hati gadis sholehah itu diatas sepeda. Dengan perasaan damai,
mengantarnya ke tempat ia bersandar di beranda kostnya.
Malampun segera tiba, tak menunda inginnya untuk
menyelimuti penghuni bumi hingga ia terlelap. Selepas adzan Isya, Ani
mempersiapkan secangkir teh hangat dan sebuah buku. Sebelum terlelap, ia memang
biasa menyiapkannya.
Redup matanya mulai terasa. Ia hentikan sejenak
aktifitasnya dan mengambil Al-Qur’an. Selembar demi selembar ia pun membaca
kata demi kata kalimat-kalimat cinta Rabbnya. Menghayati maknanya, dan
merasainya dalam tiap hela nafas dan detak jantungnya.
Dikala sebagian perempuan tengah asyik berbincang dengan
kawannya, atau mungkin menghabiskan malam dengan menonton sinetron kesukaan,
Ani dengan setia menghabiskan harinya dengan beribadah kepada-Nya. Mencurahkan
berjuta rindu pada Sang Pencipta, sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang
telah diperoleh seorang hamba atas Tuhannya. Tak banyak orang yang memahami
akan pentingnya bercengkrama dengan Tuhan mereka. Atau mungkin mereka telah
menuhankan hal-hal diluar kehadiran Allah, Tuhan seluruh alam. Sangat miris
memang, bila dibandingkan dengan banyaknya jumlah penduduk di negeri ini yang
notabennya mayoritas beragama Islam.
Malam semakin larut. Sebelum ke pelukan selimut, Ani
sempatkan shalat witir. Ia tengadahkan kedua tangannya seusai shalat, mencoba
menulis Diari dalam untaian kata dengan do’a nya. Seraya memohon dan meminta,
akan kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat atas kehidupan Abah dan Ibunda
tercinta. Mengharap kehidupan yang lebih baik untuk mereka. Sebuah Diari
terindah sepanjang masa, tak ada yang mampu menandinginya. Ketika yang lain
asyik dengan torehan tulisannya di selembar kertas, atau mungkin sibuk dengan
hatinya di depan komputer, Ani mencoba mendobrak segala bentuk
kelaziman-kelaziman tersebut. Ia ganti kertas dengan tengadah tangannya. Ia
arahkan segenap curahan hatinya pada Sang Pemilik Jiwa. Melantunkan bait demi
bait syair pelipur lara. Terkadang sembari ditemani linangan air mata. Memang,
akan lebih terasa indah dan nikmat bila bermunajat pada-Nya. Menikmati kehadiran
Tuhan dalam lantunan do’a.
Seketika, hening malam pun menemaninya terlelap dalam
buaian bintang dan rembulan. Mendekapnya hangat dalam balutan keindahan malam.
Saat dimana Ani bisa menikmati hidup, mencari jati dirinya dari balik cahaya
bulan yang selalu dirindukannya. Dan ketika Ani mencoba memberi ucapan selamat
malam kepada langit, matanya tertuju pada secarik kertas yang ada di mejanya. Sesosok
bayangan lucu yang sempat menghiasi harinya hadir, kegugupan yang terlihat
tulus itu mampu membuatnya memberikan senyum termanisnya saat itu.
“Astaghfirullah, apa yang kau pikirkan Ani??” Ani memarahi hatinya yang
tiba-tiba berusaha mengingat sosok pemuda itu. Seketika Ani langsung menarik
selimutnya, berdoa dan memaksa matanya untuk segera terpejam. Tapi sebelum Ani
meninggalkan harinya, saat angin berdesis sepoi membelai wajahnya, dengan
lembut ia berkata “Selamat Malam”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentar disini, diharapkan tidak memakai anonymous supaya lebih mengakrabkan (pilihlah profil Nama/URL dengan menggunakan nama samaran atau nama panggilan anda bila tidak memiliki akun).