Minggu, 16 Oktober 2022

Cinta Gembala Bunga - Kisah 1.2

 

Layaknya roda yang terus berputar, tiada hentinya manusia melangkahkan kehidupannya di atas bumi. Mencari sesuap nasi, atau mungkin hanya mencari sensasi. Ada yang duduk santai, atau hanya bersenda gurau. Di jembatan layang, pengemispun dengan setia mengangkat tangan. Berharap para dermawan melayangkan selembar uang atau hanya sebatas receh. Ironis memang, bila dibandingkan dengan mereka yang tertawa terbahak dibalik gedung-gedung tinggi pencakar langit. Atau mereka yang hanya tahu bagaimana mengisi perut sendiri.

Di balik itu semua, seorang gadis lemah gemulai mengayuh sepeda. Menelusuri kota Bandung yang sudah padat terhimpit oleh sesaknya emperan toko. Bahkan lautan manusia tengah siap membanjiri wilayah itu, seolah gelombang dahsyat yang akan memporak-porandakan alam dengan hasrat dan keinginannya.

Iapun berhenti di salah satu emperan toko. Menatapi seorang tua renta yang tengah mengayuh mesin jahit kesayangannya. Dengan cekatan ia menari bersama kain yang sedang digarapnya. Tanpa peduli buasnya hidup yang ada di depan mata dan siap menerkamnya kapan saja. Gadis itupun meneteskan air mata. Melihat sosok yang sedemikian hingganya. Dengan langkah teratur ia mendekati tua renta itu. Sembari menghapus sisa-sisa air mata yang sempat turun. Nada lembut dan indah berbalut sayang pun keluar dari mulutnya. “Bah, abah, ini Ani bawakan nasi dan sayur kangkung kesukaan Abah.” Bapak yang sudah tua renta itupun menghentikan kegiatannya seraya menatap gadis gemulai yang datang membawa bekal makan siangnya. “Iya nak, kemarilah, duduk di samping Abah dan makanlah bersama.” Sahut tua renta itu dengan senyum tulus penuh kasih dan sayang. Seketika gadis itu merangkul sosok tua renta yang begitu dicintainya. Tanpa sadar air matanya kembali menetes seperti air terjun yang tiada seorangpun mampu membendungnya. Lembut tangan sang Abahpun menepuk punggungnya. “Sudah, sudah nak, ayo kita makan. Abah sudah lapar.” Nada Abah pun melarutkan kesedihan Ani yang mendalam. Ani pun bergegas membuka rantang berisi nasi dan sayur kangkung untuk disantap bersama. Sungguh, hidangan yang sederhana. Namun makanan itu adalah yang paling nikmat dibanding makanan yang disediakan restoran mewah sekalipun. Terutama bila dinikmati bersama orang terkasih. Sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Ani adalah sesosok perempuan yang begitu sabar. Hidup berdua bersama sang Abah setelah ditinggal wafat oleh ibunda tercinta sepuluh tahun silam. Abahnya hanya seorang penjahit pinggir jalan yang tak jelas penghasilannya. Kadang rejeki datang, kadang surut seperti laut di bibir pantai. Meski hidup penuh kesederhanaan, Ani tak kenal menyerah. Prestasi demi prestasi ia raih demi mencari beasiswa untuk menyambung hidup. Mungkin inilah kasih Allah untuk makhluknya. Berkat ikhtiarnya ditemani do’a sang Abah, Ani bisa kuliah di kedokteran dengan biaya kuliah gratis. Iapun tinggal di asrama mahasiswa dengan biaya gratis pula. Memang, rezeki tak akan lari ke mana. Bila ia mau berusaha, dan bertawakal pada-Nya akan hasilnya, “Kun, Fayakun”, “Jadilah, maka jadilah sesuatu itu.”

“Abah, kuliah Ani sudah hampir selesai.” Kata Ani. Abahpun tersenyum dengan mata berbinar. “Alhamdulillah, semoga Allah SWT senantiasa melindungimu nak.” Sahut Abah dengan mesra. Ani membalas dengan senyum tenang penuh bahagia. Penuh harap dan do’a, ia ingin membahagiakan Abahnya dengan hasil jerih payahnya.

Seusai membereskan sisa makan dan rantangnya, Ani pamit kepada Abahnya. Dalam setiap kayuh sepedanya, ia terus berTahmid dalam hatinya. Berucap syukur sebanyak-banyaknya atas limpahan nikmat yang didapatnya. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah”. Ditelusurinya satu per satu bentangan jalan di sudut kota Bandung. Menikmati pemandangan kota yang sudah penuh sesak oleh kendaraan yang lalu lalang. Hingga sore itu, langit tetap ceria memayungi hati gadis sholehah itu diatas sepeda. Dengan perasaan damai, mengantarnya ke tempat ia bersandar di beranda kostnya.

Malampun segera tiba, tak menunda inginnya untuk menyelimuti penghuni bumi hingga ia terlelap. Selepas adzan Isya, Ani mempersiapkan secangkir teh hangat dan sebuah buku. Sebelum terlelap, ia memang biasa menyiapkannya.

Redup matanya mulai terasa. Ia hentikan sejenak aktifitasnya dan mengambil Al-Qur’an. Selembar demi selembar ia pun membaca kata demi kata kalimat-kalimat cinta Rabbnya. Menghayati maknanya, dan merasainya dalam tiap hela nafas dan detak jantungnya.

Dikala sebagian perempuan tengah asyik berbincang dengan kawannya, atau mungkin menghabiskan malam dengan menonton sinetron kesukaan, Ani dengan setia menghabiskan harinya dengan beribadah kepada-Nya. Mencurahkan berjuta rindu pada Sang Pencipta, sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang telah diperoleh seorang hamba atas Tuhannya. Tak banyak orang yang memahami akan pentingnya bercengkrama dengan Tuhan mereka. Atau mungkin mereka telah menuhankan hal-hal diluar kehadiran Allah, Tuhan seluruh alam. Sangat miris memang, bila dibandingkan dengan banyaknya jumlah penduduk di negeri ini yang notabennya mayoritas beragama Islam.

Malam semakin larut. Sebelum ke pelukan selimut, Ani sempatkan shalat witir. Ia tengadahkan kedua tangannya seusai shalat, mencoba menulis Diari dalam untaian kata dengan do’a nya. Seraya memohon dan meminta, akan kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat atas kehidupan Abah dan Ibunda tercinta. Mengharap kehidupan yang lebih baik untuk mereka. Sebuah Diari terindah sepanjang masa, tak ada yang mampu menandinginya. Ketika yang lain asyik dengan torehan tulisannya di selembar kertas, atau mungkin sibuk dengan hatinya di depan komputer, Ani mencoba mendobrak segala bentuk kelaziman-kelaziman tersebut. Ia ganti kertas dengan tengadah tangannya. Ia arahkan segenap curahan hatinya pada Sang Pemilik Jiwa. Melantunkan bait demi bait syair pelipur lara. Terkadang sembari ditemani linangan air mata. Memang, akan lebih terasa indah dan nikmat bila bermunajat pada-Nya. Menikmati kehadiran Tuhan dalam lantunan do’a.

Seketika, hening malam pun menemaninya terlelap dalam buaian bintang dan rembulan. Mendekapnya hangat dalam balutan keindahan malam. Saat dimana Ani bisa menikmati hidup, mencari jati dirinya dari balik cahaya bulan yang selalu dirindukannya. Dan ketika Ani mencoba memberi ucapan selamat malam kepada langit, matanya tertuju pada secarik kertas yang ada di mejanya. Sesosok bayangan lucu yang sempat menghiasi harinya hadir, kegugupan yang terlihat tulus itu mampu membuatnya memberikan senyum termanisnya saat itu. “Astaghfirullah, apa yang kau pikirkan Ani??” Ani memarahi hatinya yang tiba-tiba berusaha mengingat sosok pemuda itu. Seketika Ani langsung menarik selimutnya, berdoa dan memaksa matanya untuk segera terpejam. Tapi sebelum Ani meninggalkan harinya, saat angin berdesis sepoi membelai wajahnya, dengan lembut ia berkata “Selamat Malam”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan komentar disini, diharapkan tidak memakai anonymous supaya lebih mengakrabkan (pilihlah profil Nama/URL dengan menggunakan nama samaran atau nama panggilan anda bila tidak memiliki akun).