Kala itu fajar masih malu-malu untuk terjaga dari tidurnya sambil berselimutkan awan. Aku menatap dengan tajam sekelilingku. Menatap cahaya mentari yang mecoba menyelusup sela-sela kerumunan awan yang tak kunjung lepas darinya. Akupun mulai melangkahkan kaki di sisi pantai itu. Berjalan di tepi pantai merupakan favoritku. Setiap punya kesempatan ke pantai, tak akan ku lewatkan merasakan desiran ombak di bibir pantai, merasakan sejuknya hembusan angin, hingga pijakanku pada pasir. Ditemani hangatnya mentari pagi,,, sungguh indah.
Melepaskan penat sejenak dengan berimajinasi dibawah naungan langit biru nan
indah. Aku mulai menggoreskan huruf demi huruf di secarik kertas. Melukiskan
tinta-tinta puisi layaknya pelukis sejati. Membiarkan pena dan jari-jariku
menari indah dalam buaian syair memuja Tuhan.
Saking asyiknya berkutat dengan kertas dan penaku, tanpa sadar seorang
laki-laki tua menyapaku. Beliau bertanya "Hai nak, ku lihat engkau hampir
seminggu sekali datang ke pantai ini dan menulis sesuatu hingga pagi datang,
apakah yang membuatmu berlaku demikian?"