Kisah 1.1: Perkenalan Dalam Selembar Kertas
Tersentak seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Dengan nafas terengah-engah dan keringat dingin, diapun beristighfar. “Astaghfirullah... Ya Rabb... Astaghfirullah...!!!” Rupanya dia baru saja bermimpi buruk. Teman sebelah kamarnya pun kaget mendengar teriakan istighfarnya. “Bi, Ada apa?” Teriak temannya. Sejenak dia menghela nafas panjang mencoba meredakan ketakutannya. “Assalamu’alaikum Bi, Abi, buka pintunya. Kamu kenapa toh?” Terdengar suara ketukan pintu dan panggilan seseorang dari luar kamar. “Wa’alaikumsalam... Iya, bentar...” sahut Abi. Abi pun melangkahkan kakinya ke arah pintu dan membukanya.
“Kenapa
toh Bi? Kayak orang kesurupan aja?”
“Oh,
kamu Ton. Iya, aku mimpi kesurupan. Aku takut banget. Untung aja ada suara
adzan.”
“Bi,
Abi, Kamu ada-ada aja. Pas mau tidur pasti ga baca do’a, jadinya setan pada
nemenin kamu tidur tuh.” Ejek Luthon sambil tersenyum.
“Hus,
habisnya aku kelelahan setelah kegiatan Training Anggota kemarin.”
“Lho,
lelah jangan jadi alasan dong. Udah, sekarang shalat dulu. Sudah untung kamu
dibangunkan sama adzan, kalo sama setan gimana hayo? Hehe...”
“Hus,
ngawur kamu. Udah ah, aku mau ngambil air wudhu dulu.”
Bergegas Abi rnengambil air wudhu. Luthon menuju ke
kamarnya dan menyusul untuk berwudhu. Seketika kostan itu kembali hening
seiring ramainya mesjid oleh hamba-hamba Allah yang akan Shalat berjama’ah.
Abi adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di salah satu
Universitas di Kota Bandung. Dia tinggal di sebuah kost-kostan yang memang
letaknya bersebelahan dengan mesjid. Jadi suara adzan sangat nyaring terdengar
dari kostannya. Abi tinggal bersama Luthon, Mukhlis, dan Sony temannya.
Masing-masing berbeda fakultas. Abi kuliah di jurusan Biologi, Luthon di FISIP,
Mukhlis di Ekonomi, dan Sony jurusan Sastra Indonesia. Meskipun begitu, namun
mereka tetap kompak. Bahkan karena kompaknya tiap hari ada saja yang mereka debatkan.
Tentang kuliah, tentang organisansi, tentang Agama, sampai mepet-mepetnya
memperdebatkan masalah perempuan. Mungkin karena mereka semua sudah kuliah
tingkat akhir sehingga hal itu sering jadi bahan pembicaraan. Terlepas dari itu
semua, keseharian mereka selalu dipenuhi dengan canda tawa dan senda gurau.
Boleh dikatakan, kostan itu tak pernah sepi dari waktu ke waktu.
Karena Mukhlis dan Sony sedang pulang kampung, Abi dan Luthon
diminta untuk menjaga kios Buku Bekas milik mereka. Meskipun sederhana, kios
itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Karena dari sanalah mereka menyambung
hidup. Uang yang mereka dapatkan dari hibah dosen dan rekan-rekannya dijadikan
modal awal untuk membuka usaha kios Buku Bekas tersebut. Selain itu, mereka
rajin mencari kerjaan paruh waktu untuk membiayai hidup. Bahkan kostan yang
mereka tempati adalah rumah kosong yang sering ditinggal pemiliknya. Karena
jarang dipakai, akhirnya rumah tersebut dihibahkan untuk takmir masjid.
Kebetulan warga di sana mengetahui ada mahasiswa yang membutuhkan tempat
tinggal, sehingga Abi dan rekan-rekan ditawari untuk tinggal di sana sekaligus
menjadi takmir masjid. Kost itu juga berfungsi ganda sebagai kios kecil tempat
usaha Buku Bekas mereka. Letak kostan yang strategis membuat kostan itu mudah
diakses dari segala arah sehingga banyak mahasiswa yang lewat, dan kios buku
bekas tersebut lumayan diminati oleh mahasiswa karena harga yang ditawarkan
juga relatif murah. Sembari menjaga kios, untuk mengisi waktu mereka juga
membuka usaha percetakan. Kebetulan semua yang ada di kost itu berjiwa bisnis,
ada saja ide mereka untuk membuka usaha.
Menjelang siang, tak seperti biasanya kios mereka sepi
pengunjung. Mungkin karena sudah mepet-mepet waktu libur sehingga sudah jarang
pula mahasiswa yang ada di Bandung yang kembali pulang ke kampung halamannya.
Di ruang tengah, Luthon sedang asyik membuat desain untuk pesanan pelanggan,
sementara Abi membaca buku sambil menjaga kios.
Ketika tengah serius membaca, tiba-tiba datang sesosok jelita
yang datang menghampirinya. Sosok itu menyapanya dan membuyarkan
konsentrasinya. Mungkin karena Abi orangnya kagetan sehingga dengan spontan dia
berteriak. “Astaghfirullah....!!!!”
Keduanya sama-sama kaget. Namun siapa sangka, sosok yang
datang tersebut adalah seorang gadis cantik nan anggun. Dalam fikirnya, entah
bidadari dari mana turun ke dunia dan menemuinya. Entah mimpi apa dia semalam
hingga bisa bertemu gadis secantik itu. “Maaf kang kalau saya mengganggu”,
ucapnya. Dengan tersipu malu dan gugup Abi berusaha menjawab, “Oh,,, Emm...
Iya, ti... tidak apa-apa Teh.”
“Maaf,
saya butuh buku ‘Menjadi Pribadi Sholehah’ ada tidak ya?” ucap gadis itu.
“Oh,
hmmm.... Sebentar ya saya cari dulu” Ucap Abi sambil celingukan.
“Upayakan
ada ya Kang, soalnya saya butuh sekali buku itu. Kalau tidak ada, mungkin ada
judul yang lain tapi dengan tema yang sama Kang?”
“Sebentar....
Wah, sepertinya judul yang Teteh cari tadi tidak ada. Kalau buku sejenis
sepertinya stoknya sedang kosong Teh, bagaimana?”
“Aduh
Kang, saya butuh sekali, gimana ya?
“Hmmm....
Kebetulan rekan saya sedang ada yang pulang, mungkin kami bisa usahakan cari di
toko pusat langganan kami besok. Sementara Teteh bisa menunggu dan kembali lagi
kesini lain kali, bagaimana?
“Oh,
begitu ya? Ya sudah, kalau begitu boleh saya minta kontak person kios ini?”
Dengan gugup Abi pun mencari-cari kartu nama khusus kontak
person kios, namun tak kunjung ditemukannya. Melihat gelagat Abi itu, si gadis
itu pun mengambil secarik kertas dan bolpoint dari tasnya kemudian menuliskan
nama serta nomor teleponnya. “Ini saja Kang, nama dan nomor saya.” Ujar si
gadis. Abi pun kembali tersipu malu. Kemudian ia mengambil kertas itu dan menuliskan
nama dan nomor teleponnya di kertas tadi. “Ini Teh, nomor dan nama saya,” Ucap
Abi sembari menyerahkan kembali kertas tersebut. Gadis itu kemudian mengucapkan
salam dan pergi dari pandangan Abi dengan terburu-buru.
Dalam beberapa menit, Abi terdiam sejenak sambil
mengingat-ingat sesuatu. Seperti ada yang aneh dari kejadian barusan. Dan benar
saja ada yang aneh, ternyata dia lupa menyimpan nomor gadis yang baru saja
berkunjung ke kiosnya. Malah menulis nomor dan namanya serta mengembalikan
kertasnya. Mungkin karena kegugupannya dia melupakan hal penting itu. Hanya
nama gadis itu yang sempat dia ingat. Ani, ya Ani namanya. “Ah, gadis itu juga
tadi terburu-buru sepertinya. Biarlah nanti saja dia yang menghubungiku
duluan.” Ucap Abi dalam hati.
Ani berjalan terburu-buru ke kostannya sambil tersenyum. Mengingat kejadian lucu yang baru saja dia alami sambil melihat secarik kertas yang dia bawa. Sesampainya di kostan, Vina teman sebelah kamarnya menegur, “Hei gadis cantik, ada apakah gerangan kau tersenyum sendiri? Sedang jatuh cinta ya?” Ani kemudian menghampiri Vina dan mencubit hidungnya, “Hus, sembarangan. Bukannya mengucapkan salam malah Suudzon.” Ucap Ani. Kemudian Ani pun menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Keduanya tersenyum kecil ditambah setelah melihat tulisan dalam secarik kertas tersebut. Ternyata kertas tersebut berisikan nama dan nomor handpon miliknya. Padahal kertas itu harusnya disimpan pemilik toko buku bekas supaya nanti bisa mengabarinya. Baru kali ini dia melihat ada orang yang gugupnya luar biasa sampai-sampai dia tidak sadar apa yang dilakukannya. Ani juga malu karena terlalu terburu-buru hingga tidak sadar bahwa kertas yang dibawanya adalah kertas miliknya sendiri. “Biarlah, nanti aku saja yang menghubungi pemilik kios itu”, kata Ani. Dan merekapun kembali tersenyum. Ani dan Vina kemudian masuk ke kamarnya masing-masing dan beraktifitas seperti biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentar disini, diharapkan tidak memakai anonymous supaya lebih mengakrabkan (pilihlah profil Nama/URL dengan menggunakan nama samaran atau nama panggilan anda bila tidak memiliki akun).